WELCOME TO BIOLOGY WORLD

6.05.2010

MENGAPA HARUS TRANSPLANTASI ORGAN???

Perkembangan peradaban manusia sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, khususnya organ-organ dalam. Peradaban yang sedang berkembang di antaranya adalah pola makan manusia sekarang yang cenderung mengandalkan makanan fast food diimbangi dengan semakin rendahnya konsumsi sayur dan buah serta pola istirahat seseorang yang semakin tidak teratur (kecenderungan untuk tidur dalam waktu yang singkat karena tuntutan pekerjaan, dll). Akibat peradaban tersebut banyak organ-organ dalam manusia yang mengalami kerusakan. Dengan adanya kemajuan dalam ilmu medik, salah satu cara yang digunakan dunia medis untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan transplantasi organ jika sudah tidak memungkinkan untuk diobati dan sudah tidak berfungsi. Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan pengawetan organ, penemuan obat- obatan anti penolakan yang semakin baik sehingga berbagai organ dan jaringan dapat ditransplantasikan.

Sebelum membahas tentang transplantasi organ, akan lebih baik kalau kita mengetahui sejarah transplantasi organ. Transplantasi organ sudah dikenal sejak tahun 600 SM di India. Pada masa itu, Susruta telah melakukan transpalantasi kulit. Sementara zaman Renaissance, seorang ahli bedah dari Italia bernama Gaspare Tagliacozzi juga telah melakukan hal yang sama. Seorang dokter di Cina, Pien Chi’ao melaporkan telah melakukan pertukaran jantung antara seorang laki-laki dengan semangat kuat tetapi keinginan lemah dengan seorang laki-laki yang semangatnya lemah tapi memiliki keinginan yang kuat dalam berusaha, untuk mencapai keseimbangan dalam hidup. Gereja Katolik mencatat pada abad ke 3, seorang pastur melakukan transplantasi kaki pada seorang umatnya dengan kaki dari jenazah seorang Ethiopia.

John Hunter (1728–1793) diduga merupakan pioneer bedah eksperimental, termasuk bedah transplantasi. Dia mampu membuat kriteria teknik bedah untuk menghasilkan jaringan transplantasi yang tumbuh di tempat baru. Akan tetapi, sistem golongan darah dan sistem histokompatibilitas yang erat hubungannya dengan reaksi terhadap transplantasi belum ditemukan. Pada abad ke–20, Wiener dan Landsteiner menyokong perkembangan transplantasi dengan menemukan golongan darah sistem ABO dan sistem Rhesus. Saat ini perkembangan ilmu kekebalan tubuh makin berperan dalam keberhasilan tindakan transplantasi.

Perkembangan teknologi kedokteran terus meningkat seiring dengan perkembangan teknik transplantasi. Ilmu transplantasi modern makin berkembang dengan ditemukannya metode–metode pencangkokan, di antaranya :

a. Pencangkokan arteria mammaria interna di dalam operasi lintas koroner oleh Dr. George E. Green.

b. Pencangkokan jantung, dari jantung kera kepada manusia oleh Dr. Cristian Bernhard, walaupun resipiennya kemudian meninggal dalam waktu 18 hari.

c. Pencakokkan sel – sel substansia nigra dari bayi yang meninggal ke penderita Parkinson oleh Dr. Andreas Bjornklund.

d. Pencangkokan ginjal,

e. Pencangkokan hati,

f. Pencangkokan sumsum tulang,

g. Pencangkokan pancreas

Sampai saat ini penelitian tentang transplantasi masih terus dilakukan. Permintaan untuk transplantasi organ terus mengalami peningkatan melebihi ketersediaan organ donor yang ada. Sebagai contoh di China, pada tahun 1999 tercatat hanya 24 transplantasi hati, namun tahun 2000 jumlahnya mencapai 78. Sedangkan tahun 2003 angkanya bertambah hingga 356. Jumlah tersebut semakin meningkat pada tahun 2004 yaitu 507 kali transplantasi. Tidak hanya hati, jumlah transplantasi keseluruhan organ di China memang meningkat sangat drastis. Setidaknya telah terjadi tiga kali lipat melebihi Amerika Serikat. Ketidakseimbangan antara jumlah pemberi organ dengan penerima organ hampir terjadi di seluruh dunia.

Bersambung…….

0 komentar:

:nyimak :bata :bingung :capede :cendol :rate :duka :malu2 :malu :marah :metal :nangis :ngacir :ngakak :ngintip :pertamax :siul :tkp

Poskan Komentar

MET BACA ISI BLOG KAMI